Rika Risnawati
Senin, 22 Januari 2018
ALLAH Is The Reason For Me To Move On
Assalamualaikum Wr. Wb.
Aku seorang gadis berusia 20 tahun, selama ini gaya hidupku tak jauh dari kalian para gadis-gadis yang selalu mengikuti jaman, aku selalu mengenakan jilbab kemanapun aku pergi karena aku adalah seorang muslim namun tanpa aku sadari jilbab yang aku kenakan jauh dari syari’at yang telah ditentukan.
Shalat memang bisa dibilang rajin tapi shalatku secepat kilat, ya bisa dibilang asal-asalan, qabla dan ba’da tak pernah aku lakukan, sholat sunnah dan puasa sunnah dilakukan bila ingat dan ingin saja, membaca al-quran pun jarang dilakukan apalagi setelah lulus SMA karena disibukkan dengan tugas-tugas kuliah, tapi sebenarnya karena tidak nyempetin saja.
Tak bisa aku menjaga hati, lisan dan pandanganku hingga sering aku tak dapat menjaga emosiku, tak dapat menjaga perkataanku hingga tak disadari sering menyakiti hati orang lain. Sering aku meninggalkan perintah-Nya dan melakukan larangan-Nya, sering hatiku berharap pada makhluk-Nya bukan pada Allah.
Astagfirullah... betapa jauh aku dari sang Pencipta, jauh diri ini dari kata Shalehah hingga kesenangan dunia yang fana saja yang terus menjadi teman dalam hidupku. Kenapa aku mendzolimi diri ini, Allah telah berikan kenikmatan tapi aku tidak mensyukurinya. Terkadang aku iri pada mereka wanita-wanita sholehan dengan hijab syar’i yang menambah kecantikan mereka, sungguh aku ingin seperti mereka yang selalu istiqomah menjaga hati, lisan dan pandangan mereka, selalu istiqomah mendekatkan diri pada Allah swt.
Alhamdulillah, wa syukrulillah, wanikmatillah.. begitu luar biasa karunia yang Allah berikan untukku, betapa Allah masih menyayangiku sehingga aku masih dapat merasakan nikmat iman dan nikmat islam. Allah berikan kesempatan untukku agar dapat memperbaiki hidup ini. Setelah begitu banyak hal yang aku lalui ternyata begitu banyak dosa yang telah aku lakukan, ingin aku menjadi pribadi yang lebih baik, ingin aku memperbaiki kesalahan-kesalahan yang telah aku perbuat.
Hijrah! ya itulah yang aku lakukan.
Aku mulai memperbaiki hijabku agar sesuai dengan syari’at yang telah ditentukan, shalat pun aku perbaiki dan berusaha lebih khusu, Al-quran berusaha kubaca disetiap selesai shalatku, shalat sunnah dan puasa sunnah berusaha aku lakukan setiap saat, pengajian-pengajian berusaha aku ikuti terlebih tuhan pertemukan aku dengan seseorang yang sangat bersemangat untuk mencari ilmu agama, dengannya aku bersama-sama berusaha mencari Ridho Allah. Tidak hanya itu saja, kuhapus semua foto-foto yang tersebar di media sosial, ku mengganti nomor agar tak lagi ada laki-laki yang menggangguku, ku perbaiki semua yang aku mampu, ku amalkan semua yang aku tahu, ku berusaha istiqomahkan hati ini di jalan Allah swt.
Aku berhijrah kurang lebih sudah 4 bulan, bukan karena dipaksa ataupun dirayu oleh orang lain, hijrahku karena keinginanku sendiri aku ingin menjadi pribadi yang lebih baik, hijrahku karena Allah.
Dalam hijrahku hal yang pertama dilakukan adalah menuntut ilmu agama, aku mulai menuntut ilmu agama di salah satu pesantren yang berada di Garut tepatnya di daerah Sukagalih. Meskipun tak banyak waktu yang dapat aku manfaatkan untuk mengaji karena padatnya jadwal kuliah di semester lima ini, aku berusaha memanaje waktu agar semuanya dapat aku lakukan. Darisana aku mulai menyibukan diri menjalani kegiatan-kegiatan positif, mengurangi jadwal kegiatan yang tak begitu penting dan berusaha memanfaatkan waktu untuk melakukan kegiatan yang bermanfaat.
Jika yang lain dalam hijrahnya sulit karena menghadapi seorang Ikhwan yang mereka cintai, berbeda denganku yang paling sulit dalam perjalanan hijrahku disamping istiqomah adalah orang-orang yang ada disekelilingku. Awal aku berhijrah aku takut jika sahabat-sahabatku menjauh karena aku tak asyik lagi, terlebih aku mempunyai seorang sahabat yang sangat dekat denganku, persahabatan kita sudah layaknya adik dan kakak yang selalu ingin saling menjaga, saling memberi kebahagiaan, saling memberi perhatian. Adakah orang yang ingin kehilanggan sahabatnya? TIDAK.. Semua sahabat didunia tentunya ingin persahabatan mereka tetap terjalin dengan baik, begitupun denganku, aku ingin persahabatanku dengan dia tetap terjalin seperti biasanya namun akupun tak dapat memaksakan apa yang dikehendakinya.
Hingga pada suatu hari ia berada pada titik jenuhnya, diri ini yang mulai sibuk dengan kegiatan-kegiatan membuat persahabatan kami renggang, ia merasa kalau aku ini berubah tak seperti dulu lagi yang selalu punya banyak waktu untuknya, hingga ia melontarkan ucapan-ucapan yang membuat hati ini sakit. Ya aku terima semua yang ia katakan karena memang begitu adanya aku terlalu sibuk mengikuti kegiatan-kegiatan yang membuat aku dekat dengan sang pencipta, aku sibuk mencari ilmu hingga nongkrong dan mengobrol tidak lagi sempat aku lakukan dengannya. Tapi tidak sedikit juga sahabat yang mendukungku, mereka memberikan motivasi agar aku tetap istiqomah. Darisana aku mulai tahu mana sahabat yang benar-benar tulus ada untukku dalam keadaan apapun dan mana sahabat yang hanya ingin bersenang-senang dalam dunia yang fana ini.
Allah maha tau isi hati ini, tak perlu aku membalas komentar-komentar pedas yang mereka lontarkan, tak perlu aku menjelaskan dan membenarkan apa yang mereka katakan, biarkan mereka menilai diri ini sesuka hati mereka karena aku akan tetap pada tujuanku, semoga Allah memudahkan jalan bagiku untuk menuju Syurga-Nya. tak apa dia menilaiku berubah karena memang begitu adanya. Ya aku berubah, aku berubah bukan lagi aku yang dulu, aku berubah ke arah yang lebih baik karena aku sadar kenikmatan dunia hanya sementara, Syurga yang ingin aku dapatkan dan untuk menuju syurganya Allah aku harus berusaha melepaskan kesenangan-kesenangan dunia yang fana ini.
Aku seorang gadis berusia 20 tahun, selama ini gaya hidupku tak jauh dari kalian para gadis-gadis yang selalu mengikuti jaman, aku selalu mengenakan jilbab kemanapun aku pergi karena aku adalah seorang muslim namun tanpa aku sadari jilbab yang aku kenakan jauh dari syari’at yang telah ditentukan.
Shalat memang bisa dibilang rajin tapi shalatku secepat kilat, ya bisa dibilang asal-asalan, qabla dan ba’da tak pernah aku lakukan, sholat sunnah dan puasa sunnah dilakukan bila ingat dan ingin saja, membaca al-quran pun jarang dilakukan apalagi setelah lulus SMA karena disibukkan dengan tugas-tugas kuliah, tapi sebenarnya karena tidak nyempetin saja.
Tak bisa aku menjaga hati, lisan dan pandanganku hingga sering aku tak dapat menjaga emosiku, tak dapat menjaga perkataanku hingga tak disadari sering menyakiti hati orang lain. Sering aku meninggalkan perintah-Nya dan melakukan larangan-Nya, sering hatiku berharap pada makhluk-Nya bukan pada Allah.
Astagfirullah... betapa jauh aku dari sang Pencipta, jauh diri ini dari kata Shalehah hingga kesenangan dunia yang fana saja yang terus menjadi teman dalam hidupku. Kenapa aku mendzolimi diri ini, Allah telah berikan kenikmatan tapi aku tidak mensyukurinya. Terkadang aku iri pada mereka wanita-wanita sholehan dengan hijab syar’i yang menambah kecantikan mereka, sungguh aku ingin seperti mereka yang selalu istiqomah menjaga hati, lisan dan pandangan mereka, selalu istiqomah mendekatkan diri pada Allah swt.
Alhamdulillah, wa syukrulillah, wanikmatillah.. begitu luar biasa karunia yang Allah berikan untukku, betapa Allah masih menyayangiku sehingga aku masih dapat merasakan nikmat iman dan nikmat islam. Allah berikan kesempatan untukku agar dapat memperbaiki hidup ini. Setelah begitu banyak hal yang aku lalui ternyata begitu banyak dosa yang telah aku lakukan, ingin aku menjadi pribadi yang lebih baik, ingin aku memperbaiki kesalahan-kesalahan yang telah aku perbuat.
Hijrah! ya itulah yang aku lakukan.
Aku mulai memperbaiki hijabku agar sesuai dengan syari’at yang telah ditentukan, shalat pun aku perbaiki dan berusaha lebih khusu, Al-quran berusaha kubaca disetiap selesai shalatku, shalat sunnah dan puasa sunnah berusaha aku lakukan setiap saat, pengajian-pengajian berusaha aku ikuti terlebih tuhan pertemukan aku dengan seseorang yang sangat bersemangat untuk mencari ilmu agama, dengannya aku bersama-sama berusaha mencari Ridho Allah. Tidak hanya itu saja, kuhapus semua foto-foto yang tersebar di media sosial, ku mengganti nomor agar tak lagi ada laki-laki yang menggangguku, ku perbaiki semua yang aku mampu, ku amalkan semua yang aku tahu, ku berusaha istiqomahkan hati ini di jalan Allah swt.
Aku berhijrah kurang lebih sudah 4 bulan, bukan karena dipaksa ataupun dirayu oleh orang lain, hijrahku karena keinginanku sendiri aku ingin menjadi pribadi yang lebih baik, hijrahku karena Allah.
Dalam hijrahku hal yang pertama dilakukan adalah menuntut ilmu agama, aku mulai menuntut ilmu agama di salah satu pesantren yang berada di Garut tepatnya di daerah Sukagalih. Meskipun tak banyak waktu yang dapat aku manfaatkan untuk mengaji karena padatnya jadwal kuliah di semester lima ini, aku berusaha memanaje waktu agar semuanya dapat aku lakukan. Darisana aku mulai menyibukan diri menjalani kegiatan-kegiatan positif, mengurangi jadwal kegiatan yang tak begitu penting dan berusaha memanfaatkan waktu untuk melakukan kegiatan yang bermanfaat.
Jika yang lain dalam hijrahnya sulit karena menghadapi seorang Ikhwan yang mereka cintai, berbeda denganku yang paling sulit dalam perjalanan hijrahku disamping istiqomah adalah orang-orang yang ada disekelilingku. Awal aku berhijrah aku takut jika sahabat-sahabatku menjauh karena aku tak asyik lagi, terlebih aku mempunyai seorang sahabat yang sangat dekat denganku, persahabatan kita sudah layaknya adik dan kakak yang selalu ingin saling menjaga, saling memberi kebahagiaan, saling memberi perhatian. Adakah orang yang ingin kehilanggan sahabatnya? TIDAK.. Semua sahabat didunia tentunya ingin persahabatan mereka tetap terjalin dengan baik, begitupun denganku, aku ingin persahabatanku dengan dia tetap terjalin seperti biasanya namun akupun tak dapat memaksakan apa yang dikehendakinya.
Hingga pada suatu hari ia berada pada titik jenuhnya, diri ini yang mulai sibuk dengan kegiatan-kegiatan membuat persahabatan kami renggang, ia merasa kalau aku ini berubah tak seperti dulu lagi yang selalu punya banyak waktu untuknya, hingga ia melontarkan ucapan-ucapan yang membuat hati ini sakit. Ya aku terima semua yang ia katakan karena memang begitu adanya aku terlalu sibuk mengikuti kegiatan-kegiatan yang membuat aku dekat dengan sang pencipta, aku sibuk mencari ilmu hingga nongkrong dan mengobrol tidak lagi sempat aku lakukan dengannya. Tapi tidak sedikit juga sahabat yang mendukungku, mereka memberikan motivasi agar aku tetap istiqomah. Darisana aku mulai tahu mana sahabat yang benar-benar tulus ada untukku dalam keadaan apapun dan mana sahabat yang hanya ingin bersenang-senang dalam dunia yang fana ini.
Allah maha tau isi hati ini, tak perlu aku membalas komentar-komentar pedas yang mereka lontarkan, tak perlu aku menjelaskan dan membenarkan apa yang mereka katakan, biarkan mereka menilai diri ini sesuka hati mereka karena aku akan tetap pada tujuanku, semoga Allah memudahkan jalan bagiku untuk menuju Syurga-Nya. tak apa dia menilaiku berubah karena memang begitu adanya. Ya aku berubah, aku berubah bukan lagi aku yang dulu, aku berubah ke arah yang lebih baik karena aku sadar kenikmatan dunia hanya sementara, Syurga yang ingin aku dapatkan dan untuk menuju syurganya Allah aku harus berusaha melepaskan kesenangan-kesenangan dunia yang fana ini.
Untukmu sahabatku... sungguh aku merindukanmu namun maaf aku
tak lagi seasyik dulu, semoga kita dipersatukan di Syurga-Nya nanti...
Model PKR, persamaan dan perbedaannya
Sekilas Tentang Pembelajaran Kelas Rangkap (PKR)
1.
Model PKR
menurut Katz
Model pertama Combine grades atau juga
dikatakan sebagai combined classess, dimana dalam satu kelas terdapat
lebih dari satu tingkatan kelas
anak. Membagi kelas menjadi
beberapa bagian sesuai dengan
tuntutan kurikulum untuk beberapa tingkatan
atau hanya dua
tingkatan. Tujuan utamanya
adalah untuk memaksimalkan kemampuan
siswa dan pemahaman
lingkungan juga meningkatkan sikap
dan pengalaman dalam
kelompok-kelompok umur yang berbeda.
Model kedua
Continuous progrees, model ini
berupa kelompok anak dengan pencapaian kurikulum
yang tinggi dimana
proses belajar mengajar
melihat keberlanjutan pengalaman dan
tingkat perkembangan anak,
dalam model ini setiap
anak berkesempatan untuk
terus berkelanjutan dalam
mengikuti setiap tingkatan kelas
sesuai dengan lama
sekolah, tujuannya adalah
setiap anak berkesempatan untuk
memperoleh keuntungan dari
perbedaan umur dan perbedaan sikap dan kemampuan ketika
belajar bersama.
Model ketiga
mixed age/multiage grouping,
dimana proses pembelajaran
dan praktek kurikulum memaksimalkan keuntungan dari berinteraksi dan
bekerjasama dari beragam umur. Dalam
model ini grup dibuat secara fleksibel
atau proses re gruping anak dibuat dalam kelompok umur, jenis kelamin,
kemampuan, mungkin terjadi satu guru mengajar untuk lebih dari satu tahun.
2.
Persamaan dan
Perbedaan ketiga model tersebut
Persamaan : setiap model di atas memiliki persamaan yaitu
sama-sama dikelompokan berdasarkan perbedaan umur pesera didik, sama-sama untuk
memaksimalkan kemampuan peserta didik agar mampu mencapai tujuan pembelajaran
yang telah ditentukan.
Perbedaan : dari ketiga model diatas dapat ditarik kesimpulan
bahwa terdapat perbedaan dilihat dari tujuan yang hendak dicapai oleh
masing-masing model tersebut yaitu , Combine grades tujuan utamanya adalah untuk memaksimalkan kemampuan
siswa dan pemahaman
lingkungan juga meningkatkan sikap
dan pengalaman dalam
kelompok-kelompok umur yang berbeda. Continuous progrees tujuannya adalah
setiap anak berkesempatan untuk
memperoleh keuntungan dari
perbedaan umur dan perbedaan sikap dan kemampuan ketika
belajar bersama. mixed age bertujuan untuk memaksimalkan keuntungan
dari berinteraksi dan bekerjasama dengan beragam umur.
3. Yang lebih cocok
diterapkan di Indonesia adalah model PKR mixed age/multiage grouping karena
model ini selain mengelompokan berdasarkan perbedaan umur juga mengalompokan
berdasarkan jenis kelamin dan kemampuan siswa, sehingga memberikan kesempatan
kepada anak untuk belajar tanpa rasa
takut dan salah,
siswa disediakan kegiatan
dengan berbagai jenis, dengan
model ini memungkinkan
anak dapat belajar
tentang aspek sosial, pemahaman tentang
diri dan orang
lain, kepercayaan diri
dan konsep diri, partisipasi anak
dalam kelompok, pada
akhirnya dapat meningkatkan
hubungan sosial dan pertemanan,
tidak ada titik
signifikansi antara kelompok
umur tertentu dengan beragam umur dalam pencapaian prestasi di kelas
Puisi Ayah dan Ibu
AYAH DAN IBU
Tak pandai aku merangkai kata
Aku bukanlah sang penguasa pena
Yang lihai menggoreskan kata indah penuh makna
Aku hanya ingin menulis
Bagaimana kau berjuang untukku
Bagaimana kau berkorban untukku
Ayah, Ibu...
Kalian segala-galanya bagiku
Kalian yang tak pernah lelah
Menjagaku, menyayangiku, membahagiakanku
Walau kalian harus letih demi membuatku bahagia
Ibu...
Lelahmu, kesalmu kau balut dengan senyuman
Kau selalu tersenyum senyum indah di depanku
Walau terkadang sennyummu terlihat begitu tegang
Tapi kau selalu menahan
Menahan agar air matamu tak terlihat olehku
Ayah...
Beban yang kau pikul tak menjadikanmu lemah
Demi aku kau berada di bawah matahari yg begitu menyengat
Hingga kulitmu semakin renta
Demi anakmu
Kau tak menghiraukan hujan yg mengguyur tubuhmu
Hingga tubuhmu menggigil kedinginan
Kau pahlawan untukku
Ibu...
Dihatiku kaulah malaikat hidupku
Kaulah pelita dalam gelapku
Kau hidup secerah mentari
Bersinar di dalam hati
Ayah, Ibu...
Tak kan kubiarkan kalian kesepian dalam senja
Tak kan kulupakan tubuh rentamu itulah yg pernah
menggendongku
Tangan renta itu yg berjuang memberi kebahagiaan untukku
Sungguh beruntungnya diriku memiliki kalian
Terima kasih senyum Ayah dan Ibu tlah mewarnai kehidupanku
Aku mencintai kalian...
*Untukmu Mah, Pak.. dariku putrimu yg belum bisa
membahagiakan kalian.. Miss u mamah Entin, Miss u Bpk Ajan :-*
Langganan:
Postingan (Atom)
-
Sekilas Tentang Pembelajaran Kelas Rangkap (PKR) 1. Model PKR menurut Katz Model pertama Combine grades atau juga dikatakan...
